Cari

Memuat...

Minggu, 30 Januari 2011

Makna Simbolik Pakaian Adat Tolaki

Ungkapan berikut ini merupakan adab-adab dalam berpakaian yang menunjukan nilai etika dan estetika pada masyarakat suku Tolaki.

“padopo ano moroa ronga ano tetutuwi kohanu meamboito pakea i laika”
Artinya: “asalkan bersih dan menutupi alat kemaluan, padanlah untuk pakaian dirumah”. Contohnya tampak pada gambar 9, seorang Puutobu (kepala adat) dalam rumah.

Selanjutnya:

”keno leu totokoma pelilito”
Artinya: “bila ada tamu datang, wajarlah bersalin (berganti) pakaian. Disini menunjukan sifat kesederhanaan manun sopan santung sangat ditonjolkan.

Berbagai bentuk dan warna serta letak pemakaian pakaian, perhiasan serta kelengkapan itu mempunyai makna simbolik menurut pandangan masyarakat suku Tolaki. Dari bentuk dan jenis pakaian dapat memberikan pertanda terhadap ciri dan identitas suku bangsa. Pakaian adat suku Tolaki agak lebih condong menyerupai bentuk-bentuk pakaian orang Melayu. Hanya nampak kesederhanaannya, terutama pemakaian sarung berlapis-lapis pada kaum wanita tidak terdapat pada mereka. Menilik warna pakaian dizaman lampau, ternyata bahwa pakaian berwarna putih adalah untuk orang kebanyakan.

Pakaian berwarna hitam pada umumnya dipakai oleh pengurus adat. Sedangkan golongan penguasa dan bangsawan memakai warna merah, coklat atau biru. Namun dewasa ini ketentuan seperti itu tidak berlaku secara mutlak lagi. Menurut pandangan masyarakat tolaki dahulu kala bahwa warna putih melambangkan keluhuran dan kesucian hati mengabdi bagi kepentingan pemerintah yang memimpin masyarakat.

Warna hitam melambangkan kematangan dan kemampuan membina dan mengembangkan peradatan. Sedangkan warna merah melambangkan kecintaan pada masyarakat. Dengan hiasan-hiasan berwarna kuning mengartikan kemuliaan. Pada gambar 1, kelihatan seorang putri/gadis berpakaian berwarna coklat muda. Bahan baju dan bahan sarung adalah kain berwarna coklat muda. Bahan baju dan sarung adalah kain semacam. Dari bentuk lubanng leher dan lengan baju yang panjang melambangkan bahwa pemakaiannya mengutamakan harga diri dan mampu mengendalikan dirinya.

Pada gambar 2, tampak seorang ibu berbaju biru tua dan memakai sarung hitam dengan motif-motif garis-garis lurus warna kuning. Dari warna pakaiannya memberikan arti lambanng bahwa dia adalah seorang ibu rumah tangga yang penuh kematangan dan kasih sayang didalam fungsi dan tanggung jawabnya.

Pada gambar 3 dan 4 adalah para tolea atau juru bicara adat dalam upacara perkawinan. Dari bajunya berwarna hitam menunjukan kematangan dan keakhlian mereka dalam tugas yang diembannya. Dari bentuk destar yang tegak di atas kepala melambangkan rasa tanggung jawab yang tinggi atas pengabdiannya. Pada gambar...seorang panitia pesta perkawinan, pakaian seperti itu juga dipakai pada acara-acara keagamaan. Yang menonjol dari pakaian dari pakaian tersebut hanyalah kopiah kuning bercorak biru dan merah. Kopiah semacam itu menunjukan ciri khas sebagai orang tolaki yang memegang suatu peranan penting kemasyarakatan. Pada gambar 5 seorang kepala pemerintah tingkat desa dalam saat menanti kedatangan tamu resmi desanya. Dari busana yang berwarna coklat dihiasi dengan renda-renda kuning melambangkan kekuasaan dalam jabatannya disertai kemuliaan atau kewibawaaan.

Demikian pula destarnya yang tegak tinggi mengandung arti rasa tanggung jawab atas jabatannya 6 selanjutnya pada gambar 7 tampak isteri kepala desa dalam seragam adat berwarna merah, dari warna busana yang dipakainya melambangkan bukan saja rasa keberanian tetapi juga menunjukan bahwa ia dari golongan penguasa atau bangsawan.

Seperti halnya pada gambar 8, dalam suatu pesta perkawinan, gadis-gadis tolaki hadir dengan berbaju merah dan sarung hitam bermotif garis lurus berwarna kuning. Mereka itu adalah gadis-gadis dari keluarga bangsawan. Hiasan-hiasan yang dipakai misalnya gelang tangan, medalion, ikat pinganng dan anting-anting menunjukan tingkat kehidupan sosial mereka.


Sumber bacaan:
Husein A. Chalik, dkk. (1991/1992). Arti Lambang dan Fungsi Tata Rias Pengantin dalam Mananamkan nilai-nilai Budaya Provinsi Sulawesi Tenggara-Edisi II. Kendari: Bagian Proyek Inventarisasi dan Pemebinaan Nilai-Nilai Budaya Sulawesi Tenggara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar